BANGKA POS-Opini
Penulis: Oleh: Benjamin Ishak Pengamat Sosial Bangka Belitung
edisi: 10/Apr/2010 wib
Setiap upaya mengatasi kekurangan atau kemiskinan energi dimanapun di dunia dengan membangun pembangkit tenaga listrik nuklir (PLTN) akan selalu mengundang sikap pro dan kontra yang kesemuanya berujung kepada kalimat plesetan kata nuclear. Apakah nuklir (nuclear) itu sebuah energi “pembunuh baru” (new killer) ataukah energi yang “baru dan bersih” (new clear). Penulis kali ini tidak ingin terjebak atau menjebakkan diri ke dalam pro dan kontra sebuah PLTN, akan tetapi lebih kepada keinginan mengajak pembaca kepada sebuah pemahaman bersama bagaimana masa depan ekonomi provinsi tanah kelahiran Bangka, jika kemiskinan energi tak terpecahkan hari ini.
Kemiskinan Energi Mirip Afrika
Jika cerdas bertanya tentang energi, maka pertanyaan terhadap benua Afrika mirip kondisi Bangka Belitung. Yakni: Kapankah tercipta peluang membangun secara berkelanjutan dan melepaskan diri dari lilitan kemiskinan?. Afrika mampu mencuri perhatian dunia dalam isu kemiskinan dan penyakit. Tetapi ada satu masalah besar yang terlampaui, yakni Afrika kekurangan listrik!. Demikian halnya Bangka Belitung. Dalam satu dekade telah banyak capaian pembangunan, tapi tetap tidak memiliki listrik yang murah, banyak, bersih dan reliable. Cahaya kecil berpijar di seluruh benua Eropa, Amerika dan Asia, namun gelap dan hitam total di Benua Afrika. Betul juga bahwa bantuan negara maju kepada negara miskin mempunyai tolok ukur, semisal proyek purifikasi air, pelestarian hutan, pemberantasan malaria, dan pengurangan kemiskinan. Tetapi problem kemiskinan energi tidak memiliki tolok ukur tegas. Ia tidak seksi, tidak memiliki konstituen internasional, tidak bergaung dan mengundang tepuk tangan. Tidak banyak yang ingin menggandeng proyek Pembangkit Listrik; entah karena kotor dalam arti politis atau memang benar kotor. Lebih parah bahwa proyek Pembangkit Listrik membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membiayai dan membangun, dan hasil investasi tidak nampak dengan segera.
Pertanyaan visioner kedua adalah apakah tidak mungkin suatu waktu nanti gelombang kemiskinan akan kembali menerpa Afrika akibat kelangkaan energi di tengah masalah penyakit HIV/AIDS, sanitasi dan air baku, serta malaria. Mirip pula dengan Bangka Belitung bagaimana nasibnya saat penghasilan dari timah sudah habis, dari lada atau karet yang masih malu-malu, dari pariwisata yang masih megap-megap?. Sehingga tak salah jika ada prediksi sinis ekonom bahwa Bangka Belitung akan menjadi Pulau Hantu. Padahal, di lain pihak menurut laporan Bank Dunia, Belanda hari ini memproduksi daya listrik 20 gigawatt. Sama besarnya dengan kebutuhan Afrika sub-Sahara, di luar Afrika Selatan. Cina, setiap dua minggu atau lebih, menambah pasokan daya listrik 1 gigawatt setara dengan penambahan daya bagi empat puluh tujuh negara Afrika Sub-Sahara dalam setahun. Sungguh timpang.
Kemiskinan Energi
Diungkapkan pertama kali oleh Robert Freling, Direktur Eksekutif Dana Energi Listrik Solar. Freling mengatakan bahwa adalah hak setiap manusia di muka bumi ini untuk memperoleh akses kepada energi, sama halnya dengan akses terhadap udara dan air. Namun Freling mengatakan bahwa masalah energi ini sering terlampaui oleh orang pintar yang mendedikasikan pekerjaan pada problem pembangunan. Sulit dipercaya jika Bank Dunia mengestimasi bahwa ada 1.6 miliar penduduk dunia, 1 dari 4 penduduk planet tidak memiliki akses terhadap jaringan listrik hari ini. Di negeri Sub Sahara Afrika ada 75 persen rumah tangga, atau 550 juta manusia tidak mempunyai jaringan listrik. Di Asia Selatan, negeri seperti India, Pakistan dan Bangladesh 700 juta manusia, 50 persen populasi total dan 50 persen populasi pedesaan tidak tersambung oleh jaringan transmisi listrik. Dan jika masih berfikir dalam konteks business as usual, maka International Energy Agency memproyeksikan akan tetap ada 1.4 miliar penduduk dunia yang tidak memiliki akses berarti terhadap listrik di tahun 2030.
Dilain sisi, polusi udara di dalam rumah yang dikeluarkan oleh asap kayu bakar untuk memasak menjadi penyebab kematian 1.6 juta manusia per tahun, umumnya anak-anak dan ibu. Berarti penyebab kematian polusi dalam rumah ini ada di belakang tingkat kematian setelah malnutrisi, seks bebas, dan ketiadaan air dan sanitasi bersih. Dan penggunaan kayu bakar untuk memasak masih akrab bagi sebagian penduduk kota Pangkalpinang.
Faktor Penyebab Kemiskinan Energi
Penyebab kemiskinan energi beragam tergantung region. Di satu negeri, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang meroket dan ledakan penduduk menjadi penyebab utama pasokan listrik berkurang. Di lain negara, akibat harga minyak dan gas yang tinggi memaksa negara melakukan “penyesuaian” harga bagi penduduknya. Dapat juga terjadi akibat musim panas yang berkepanjangan menyebabkan pasokan energi berkurang akibat bendungan PLTA mengering. Namun jika ada satu penyebab yang menjadi biang keladi problem kemiskinan energi adalah tidak adanya institusi yang berfungsi yang mampu mengumpulkan dana pada skala yang dibutuhkan untuk membangun dan mengoperasikan power plants dan jaringan transmisi. Alasan ketidakmampuan ini karena negara-negara miskin energi terjangkit wabah pemerintahan yang korup, dan akibat perang saudara yang berkesinambungan, atau kedua-duanya. Di Afrika khususnya kedua penyebab ini saling berhubungan tidak berdiri sendiri.
Jika sebuah negara tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi dalam arti sebenarnya, atau negara yang tidak memiliki keamanan dalam negeri yang stabil untuk memasuki satu perjanjian investasi jangka panjang mulai dari planning, designing, financing, building, and operating sebuah power plant plus jaringan transmisi yang ke semua tahap ini memang sangatlah mahal, maka yang ada hanyalah mimpi. Dalam bahasa lugas dikatakan bahwa setiap masalah di negara berkembang adalah masalah energi. Masalah pendidikan adalah masalah kekurangan guru dan kekurangan energi. Masalah pelayanan kesehatan di Afrika adalah masalah kekurangan dokter dan obat-obatan dan kekurangan energi untuk mengoperasikan peralatan kedokteran dan menyimpan obat-obatan.
Masalah pengangguran di India adalah masalah kekurangan skills dan investasi dan juga kekurangan energi untuk menjalankan pabrik-pabrik. Masalah pertanian di Bangladesh adalah kekurangan benih, pupuk dan tanahûdan kekurangan energi untuk memompa air keluar ke permukaan tanah.
Mengatasi Kemiskinan Energi
Sekalipun di negara yang tata kelola pemerintah dan kondisi sosial nya relatif stabil, power plant tetap memble, karena pemerintah tidak mengijinkan swasta sebagai entitas komersial independen untuk membangun dan mengoperasikannya. Atau karena pemerintah membuat proyek listrik swasta ini menjadi honey pot para politikus. Energi setali tiga uang dengan komoditas ekonomi lainnya. Ia membutuhkan adanya pemerintahan yang berwibawa, institusi yang berfungsi, dan pasar yang efektif untuk membawa elektron dari produser kepada konsumer secara berkelanjutan. Tanpa energi yang dapat dipercaya, hampir semua aspek kehidupan akan terganggu. Namun di atas semuanya, energi adalah kapasitas untuk melakukan pekerjaan manusia. Pada level pedesaan menurut Freling, miskin energi berarti tidak mampu memompa air bersih secara reguler, tidak ada komunikasi, tidak ada kelas pemberantasan buta aksara, dan tidak ada komputer yang menyala di sekolah atau akses ke dunia maya. Ketidakadilan sosial yang tak pernah selesai.
Rencana menjadikan provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai tapak kawasan PLTN tentu telah dipikirkan dengan masak sebagai ultimate solution dari berbagai opsi energi yang telah dicoba untuk dikembangkan. Semboyan “Yo Kite Punye PLTN” yang dicanangkan walikota Pangkal Pinang; Zulkarnain Karim beberapa waktu yang lalu selayaknya dilihat sebagai sebuah terobosan agar dapat membangun secara berkelanjutan dan melepaskan diri dari lilitan kemiskinan. ***
Benjamin Ishak
Sumber:
2008, Thomas L. Friedman, Hot, Flat, and Crowded, Penguin Books – England