Posted by: ben | April 15, 2010

Kemiskinan Energi: Adakah Solusi Lain?

BANGKA POS-Opini

Penulis: Oleh: Benjamin Ishak Pengamat Sosial Bangka Belitung

edisi: 10/Apr/2010 wib

Setiap upaya mengatasi kekurangan atau kemiskinan energi dimanapun di dunia dengan membangun pembangkit tenaga listrik nuklir (PLTN) akan selalu mengundang sikap pro dan kontra yang kesemuanya berujung kepada kalimat plesetan kata nuclear. Apakah nuklir (nuclear) itu sebuah energi “pembunuh baru” (new killer) ataukah energi yang “baru dan bersih” (new clear). Penulis kali ini tidak ingin terjebak atau menjebakkan diri ke dalam pro dan kontra sebuah PLTN, akan tetapi lebih kepada keinginan mengajak pembaca kepada sebuah pemahaman bersama bagaimana masa depan ekonomi provinsi tanah kelahiran Bangka, jika kemiskinan energi tak terpecahkan hari ini.

Kemiskinan Energi Mirip Afrika

Jika cerdas bertanya tentang energi, maka pertanyaan terhadap benua Afrika mirip kondisi Bangka Belitung. Yakni: Kapankah tercipta peluang membangun secara berkelanjutan dan melepaskan diri dari lilitan kemiskinan?. Afrika mampu mencuri perhatian dunia dalam isu kemiskinan dan penyakit.  Tetapi ada satu masalah besar yang terlampaui, yakni Afrika kekurangan listrik!. Demikian halnya Bangka Belitung. Dalam satu dekade telah banyak capaian pembangunan, tapi tetap tidak memiliki listrik yang murah, banyak, bersih dan reliable. Cahaya kecil berpijar di seluruh benua Eropa, Amerika dan Asia, namun gelap dan hitam total di Benua Afrika. Betul juga bahwa bantuan negara maju kepada negara miskin mempunyai tolok ukur, semisal proyek purifikasi air, pelestarian hutan, pemberantasan malaria, dan pengurangan kemiskinan. Tetapi problem kemiskinan energi tidak memiliki tolok ukur tegas. Ia tidak seksi, tidak memiliki konstituen internasional, tidak bergaung dan mengundang tepuk tangan. Tidak banyak yang ingin menggandeng proyek Pembangkit Listrik; entah karena kotor dalam arti politis atau memang benar kotor.  Lebih parah bahwa proyek Pembangkit Listrik membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membiayai dan membangun, dan hasil investasi tidak nampak dengan segera.

Pertanyaan visioner kedua adalah apakah tidak mungkin suatu waktu nanti gelombang kemiskinan akan kembali menerpa Afrika akibat kelangkaan energi di tengah masalah penyakit HIV/AIDS, sanitasi dan air baku, serta malaria. Mirip pula dengan Bangka Belitung bagaimana nasibnya saat penghasilan dari timah sudah habis, dari lada atau karet yang masih malu-malu, dari pariwisata yang masih megap-megap?. Sehingga tak salah jika ada prediksi sinis ekonom bahwa Bangka Belitung akan menjadi Pulau Hantu.  Padahal, di lain pihak menurut laporan Bank Dunia, Belanda hari ini memproduksi daya listrik 20 gigawatt. Sama besarnya dengan kebutuhan Afrika sub-Sahara, di luar Afrika Selatan. Cina, setiap dua minggu atau lebih, menambah pasokan daya listrik 1 gigawatt setara dengan penambahan daya bagi empat puluh tujuh negara Afrika Sub-Sahara dalam setahun. Sungguh timpang.

Kemiskinan Energi

Diungkapkan pertama kali oleh Robert Freling, Direktur Eksekutif Dana Energi Listrik Solar. Freling mengatakan bahwa adalah hak setiap manusia di muka bumi ini untuk memperoleh akses kepada energi, sama halnya dengan akses terhadap udara dan air.  Namun Freling mengatakan bahwa masalah energi ini sering terlampaui oleh orang pintar yang mendedikasikan pekerjaan pada problem pembangunan.  Sulit dipercaya jika Bank Dunia mengestimasi bahwa ada 1.6 miliar penduduk dunia, 1 dari 4 penduduk planet tidak memiliki akses terhadap jaringan listrik hari ini. Di negeri Sub Sahara Afrika ada 75 persen rumah tangga, atau 550 juta manusia tidak mempunyai jaringan listrik. Di Asia Selatan, negeri seperti India, Pakistan dan Bangladesh  700 juta manusia, 50 persen populasi total dan 50 persen populasi pedesaan tidak tersambung oleh jaringan transmisi listrik. Dan jika masih berfikir dalam konteks business as usual, maka International Energy Agency memproyeksikan akan tetap ada 1.4 miliar penduduk dunia yang tidak memiliki akses berarti terhadap listrik di tahun 2030.

Dilain sisi, polusi udara di dalam rumah yang dikeluarkan oleh asap kayu bakar untuk memasak menjadi penyebab kematian 1.6 juta manusia per tahun, umumnya anak-anak dan ibu. Berarti penyebab kematian polusi dalam rumah ini ada di belakang tingkat kematian setelah malnutrisi, seks bebas, dan ketiadaan air dan sanitasi bersih.  Dan penggunaan kayu bakar untuk memasak masih akrab bagi sebagian penduduk kota Pangkalpinang.

Faktor Penyebab Kemiskinan Energi

Penyebab kemiskinan energi beragam tergantung region. Di satu negeri, kombinasi pertumbuhan ekonomi yang meroket dan ledakan penduduk menjadi penyebab utama pasokan listrik berkurang. Di lain negara, akibat harga minyak dan gas yang tinggi memaksa negara melakukan “penyesuaian” harga bagi penduduknya. Dapat juga terjadi akibat musim panas yang berkepanjangan menyebabkan pasokan energi berkurang akibat bendungan PLTA mengering. Namun jika ada satu penyebab yang menjadi biang keladi problem kemiskinan energi adalah tidak adanya institusi yang berfungsi yang mampu  mengumpulkan dana pada skala yang dibutuhkan untuk membangun dan mengoperasikan power plants dan jaringan transmisi. Alasan ketidakmampuan ini karena negara-negara miskin energi terjangkit wabah pemerintahan yang korup, dan akibat perang saudara yang berkesinambungan, atau kedua-duanya. Di Afrika khususnya kedua penyebab ini saling berhubungan tidak berdiri sendiri.

Jika sebuah negara tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi dalam arti sebenarnya, atau negara yang tidak memiliki keamanan dalam negeri yang stabil untuk memasuki satu perjanjian investasi jangka panjang mulai dari planning, designing, financing, building, and operating sebuah power plant plus jaringan transmisi  yang ke semua tahap ini memang sangatlah mahal, maka yang ada hanyalah mimpi. Dalam bahasa lugas dikatakan bahwa setiap masalah di negara berkembang adalah masalah energi. Masalah pendidikan adalah masalah kekurangan guru dan kekurangan energi. Masalah pelayanan kesehatan di Afrika adalah masalah kekurangan dokter dan obat-obatan dan kekurangan energi untuk mengoperasikan peralatan kedokteran dan menyimpan obat-obatan.

Masalah pengangguran di India adalah masalah kekurangan skills dan investasi dan juga kekurangan energi untuk menjalankan pabrik-pabrik. Masalah pertanian di Bangladesh adalah kekurangan benih, pupuk dan tanahûdan kekurangan energi untuk memompa air keluar ke permukaan tanah.

Mengatasi Kemiskinan Energi

Sekalipun di negara yang tata kelola pemerintah dan kondisi sosial nya relatif stabil, power plant tetap memble, karena pemerintah tidak mengijinkan swasta sebagai entitas komersial independen untuk membangun dan mengoperasikannya. Atau karena pemerintah membuat proyek listrik swasta ini menjadi honey pot para politikus. Energi setali tiga uang dengan komoditas ekonomi lainnya. Ia membutuhkan adanya pemerintahan yang berwibawa, institusi yang berfungsi, dan pasar yang efektif untuk membawa elektron dari produser kepada konsumer secara berkelanjutan. Tanpa energi yang dapat dipercaya, hampir semua aspek kehidupan akan terganggu. Namun di atas semuanya, energi adalah kapasitas untuk melakukan pekerjaan manusia. Pada level pedesaan menurut Freling, miskin energi berarti tidak mampu memompa air bersih secara reguler, tidak ada komunikasi, tidak ada kelas pemberantasan buta aksara, dan tidak ada komputer yang menyala di sekolah atau akses ke dunia maya. Ketidakadilan sosial yang tak pernah selesai.

Rencana menjadikan provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai tapak kawasan PLTN tentu telah dipikirkan dengan masak sebagai ultimate solution dari berbagai opsi energi yang telah dicoba untuk dikembangkan. Semboyan “Yo Kite Punye PLTN” yang dicanangkan walikota Pangkal Pinang; Zulkarnain Karim beberapa waktu yang lalu selayaknya dilihat sebagai sebuah terobosan agar dapat membangun secara berkelanjutan dan melepaskan diri dari lilitan kemiskinan. ***

Benjamin Ishak

Sumber:

2008, Thomas L. Friedman, Hot, Flat, and Crowded, Penguin Books – England

Posted by: ben | August 21, 2010

Keaneka-ragaman Hayati (II)

Keaneka-ragaman atau Biodiversitas

Jika bicara tentang melestarikan biodiversitas, apa persisnya yang dimaksud???. Ada satu definisi dari kamus Biologyreference.com bahwa biodiversitas adalah: “Jumlah total kehidupan diatas bumi; seluruh rangkaian kehidupan yang seimbang yang terdiri dari biomasa dan ekosistim darat, laut dan air tawar, dan spesies – flora, fauna, jamur, dan mikro organisme – yang hidup didalamnya, termasuk perilaku, interaksi dan proses ekologis.

Biodiversitas juga terkait dengan komponen tidak-bernyawa lain dari planet – atmosfir, samudera, sistim perairan tawar, formasi geologi, dan tanah – membentuk satu sistim ketergantungan yang bernama BIOSFIR!.”

Diseluruh biosfir tempat manusia hidup, para ilmuwan hari ini telah menemukan dan mendeskripsikan antara 1.7 dan 1.8 juta spesies tanaman, hewan dan mikro organisme (Russel A. Mittermeier – presiden CI). Namun sebagian ilmuwan lain menyebut figur berbeda, yakni antara 5 dan 30 juta spesies, dan ilmuwan lain ada yang menyebut ada 100 juta lebih spesies yang belum diidentifikasikan karena ia tersembunyi didasar laut atau ditempat-tempat yang sulit dijangkau manusia. Ada 80 hingga 90 jenis primata yang baru saja berhasil diidentifikasikan dalam waktu satu setengah dekade terakhir, yang berarti ada 15 – 20% primata yang telah dideskripsikan secara keilmuan dalam waktu 15 tahun terkahir ini.

Inilah sebuah keniscayaan yang patut mendapat perhatian serius dari kita semua. Jika hari ini semua kepala menoleh HANYA kepada masalah Perubahan Klimat Global atau (atau dalam wacana AL katakanlah misal fokus kepada RTH-RTH yang begitu banyak merampas waktu dan energi-ben) ,,, maka akan lenyap lah biodiversitas tanpa kita sadari!. Dan jangan berfikir akan ada klimat yang sehat atau peradaban yang sehat diatas planet yang mati!. Klimat manusia terdampak langsung oleh kesehatan hutan tropis dan sistim-sistim alam lain nya.

Hutan Tropis Sumatera … (5)

Dari lahan basah Pantanal di barat-daya Brazil hingga hutan hujan Atlantik dipantai Brazil, dari hutan belantara Tameng Guyana di selatan Venezuela hingga ke Rio Tambopata stasiun riset burung Macaw dijantung hutan Peru, dari pegunungan eksotik Shangri-La di Tibet hingga kehutan tropis Sumatera dan pulau bercincin terumbu karang off Bali ,,, adalah perjalanan yang menjadi guru penulis cerita asli ini, Tom Friedman. Demikian pula dengan perjalanan nya sebelum punya anak ke Masai Mara di Kenya, dan krater Ngorongoro di Tanzania serta padang pasir Saudi Arabia.

Dalam upaya Tom memahami tantangan biodiversitas, ada satu kisah menarik dalam satu kesempatan Tom travel kesatu tempat bernama Mato Grosso do Sul dijantung Pantanal diperbatasan Brazil, Bolivia dan Paraguay. Berjumpa dengan mbahurekso Nilson de Barros asli orang Brazil, tersebut kisah sebagai berikut:

Ancaman utama terhadap biodiversitas dan ekosistim diseluruh dunia hari ini berasal dari DUA arah yang berbeda. Pertama berasal dari wilayah itu sendiri dimana mereka yang-termiskin-dari-yang-miskin (the poor of the poorest) mencoba bertahan hidup bergantung dari ekosistim yang mereka huni. Dan jika terlalu banyak golongan manusia ini, maka anda akan segera kehilangan apapun namanya, mulai dari hutan, terumbu karang, dan spesies yang dapat terjangkau. Dan ini adalah masalah terbesar di lahan basah dan hutan tropis Amazon. (Dalam kasus Pantanal berbeda karena tidak ada ancaman dari penduduk miskin untuk menebang pohon dan menjual kepada perusahaan kayu untuk lari dari kemiskinan. Budaya di pantanal adalah contoh langka dimana manusia hidup serasi dengan alam – melalui mixed economy of ranching, perikanan dan terbaru ekowisata).

Kedua berasal dari globalisasi!. Ini agak rumit, tapi begini ngomongnya:

Ada tiga lapis ancaman terhadap ekosistim Pantanal: (A) Petani Kedelai di dataran tinggi diatas basin Pantanal yang bernafsu besar untuk memenuhi pasar kacang kedelai dunia yang berkembang pesat – dengan cara memperluas perkebunan, yang mengakibatkan pestisida dan lempung runoff mengisi dan membunuh sungai dan wildlife. (B) Ancaman kedua adalah kerjasama multilateral antara negara Brazil, Argentina, Uruguay, Paraguay dan Bolivia yang membentuk blok perdagangan dengan harapan membuat ekonomi blok negara-negara ini mampu bersaing secara global. DAN untuk memudahkan produk kedelai Pantanal ke pasar, maka pemerintah lima negara ingin mengeruk dan meluruskan sungai yang ada yang jelas akan mengubah ekosistim. Dan ancaman ketiga (C) adalah dari konsorsium perusahaan energi internasional yang membangun jaringan pipa melintas Pantanal, dari Bolivia yang kaya gas menuju kota haus energi Brazil; Sao Paolo.

Pantanal dalam kenyataannya adalah laboratorium sebuah kedigjayaan ekonomi global dan keterpurukan sebuah biodiversitas!. Keuntungan terbesar dari sebuah globalisasi adalah membawa lebih banyak manusia dari keterpurukan ekonomi dalam kecepatan yang belum pernah tercatat dalam sejarah. Kerugian terbesar adalah  dalam hal peningkatan standard hidup dimana globalisasi memungkinkan terciptanya kenaikan level produksi dan konsumsi oleh lebih banyak orang. Dan selanjutnya tentu menjadi penyebab terjadinya pembengkakan kota (urban sprawl) diseluruh dunia, bertambahnya jalan-jalan raya, dan rumah lebih besar yang mengkonsumsi lebih banyak energi untuk lebih banyak orang. Dan sebagai upaya meyuapi kebutuhan tak terbatas manusia ini, semakin banyak perusahaan akan mencoba menggaruk hutan alam seperti di INDONESIA dan Brazil, dan mengubahnya menjadi perkebunan kelapa sawit, kacang kedelai, dan pengusaha komersial lain dalam kecepatan dan lingkup ,,, yang sekali lagi tak pernah terjadi dalam sejarah manusia sebelumnya.


Posted by: ben | August 21, 2010

Keanekaragaman-Hayati (I)

Sejuta Kapal Sejuta Nabi Nuh … (1)

Nature is the art of God.

Thomas Browne, Religio Medict, 1635

Bulan Desember 2007 surat kabar New York Times menurunkan berita oleh Jim Yardley tentang Kura-kura Raksasa Batok Lunak sungai Yangtze. Sang betina dipercaya sebagai kura-kura terakhir dimuka bumi yang ndilala dipelihara di kebun binatang Changsa, China. Sementara sang jantan – yang juga dipercaya para ilmuwan sebagai jantan terakhir di planet bumi ini – hidup dikebun binatang lain di kota Suzhou, China. Pasangan Kura-kura Raksasa Batok Lunak ini diharapkan dapat menjadi juru selamat kepunahan kura-kura air tawar terbesar dunia.

Menceritakan sang betina, Yardley menulis:  “Ia makan dengan diet khusus daging mentah. Kolam kecil dikandang nya dikelilingi oleh kaca anti-peluru. Kamera tersembunyi mengamati gerak-gerik nya sepanjang waktu.  Satpam ditugaskan menjaga kandang nya di malam hari.  Agenda nya sederhana:

The turtle MUST NOT DIE …..!.

Sang Kura-kura betina ini telah berusia 80 tahun dengan berat 50 kg lebih. Sedangkan sang jantan, calon pacar nya berusia 100 tahun dengan berat hampir 100 kg lebih. Para ilmuwan China akan mencoba melakukan inseminasi artifisial dan (jika gagal) kedua pasangan kura-kura ini akan dilepas bersama di kolam untuk masa perkawinan musim Semi 2008”.

“Bagi bangsa China, kura-kura adalah lambang kesehatan dan umur panjang” seperti dicatat Yardley. “tapi perjuangan panjang penyelamatan dua ekor Kura-kura Raksasa Sungai Yangtze Batok Lunak lebih merupakan ambang terancamnya kondisi satwa liar dan biodiversitas China”, dimana polusi, perburuan liar, dan perlombaan kemajuan ekonomi sedang berlangsung merusak habitat dan menghapus populasi fauna dan flora dalam kecepatan yang maha dahsyat.

Dengan spesies yang semakin banyak terancam menuju kepunahan akibat “banjir kemajuan ekonomi”, maka kemungkinan besar kita-kita yang hidup hari ini adalah generasi manusia pertama sepanjang sejarah peradaban manusia yang harus bertindak bagai Nabi Nuh – menyelamatkan pasangan terakhir dari semua spesies. Atau sebagaimana yang diperintahkan Tuhan kepada nabi Nuh dalam Genesis:

“And of every living thing of all flesh, you shall bring two of every sort into the Ark, to keep them alive with you; they shall be male and female”.

Tidak seperti nabi Nuh, tapi generasi dan peradaban kita hari ini harus memikul tanggung jawab terhadap banjir bencana alam mengatas-namakan “pembangunan ekonomi”, dan kita pula yang harus bertanggung jawab untuk membangun Perahu Nabi Nuh!. Manusia lah penyebab banjir ,,, tak perlu berkilah ,,, dan manusia pula lah penyebab kerusakan terumbu karang, hutan perawan, dunia ikan, sungai dan tanah subur – yang terampas oleh pembangunan komersil; dan hanya manusia lah yang mampu membangun perahu Nabi Nuh demi pelestarian fauna ,,, dan flora!.

Conservation International (2) …

Sesungguhnya awal untuk menjadi bijaksana adalah memahami bahwa tantangan dan tanggung jawab ada dipundak manusia untuk bertindak seperti nabi Nuh – menciptakan perahu-perahu bukan sebaliknya. Didalam Era Energy-Climate dikatakan bahwa disamping bertindak nyata pro kelestarian dalam kebutuhan energi yang meroket, perubahan klimat yang drastik, dan proliferating petrodictatorship (bagian lain yang belum dibahas-ben), harap jangan terlupakan masalah ancaman terhadap biodiversitas bumi dikarenakan semakin banyak dan banyak lagi spesies fauna dan flora yang punah atau terancam punah.

Conservation International (CI) adalah organisasi spesialis dalam hal preservasi keanekaragaman hayati!. Secara konstan akan diketemukan spesies yang baru dan secara pasti spesies juga akan punah baik akibat kondisi biologis atau pembangunan ekonomi, perburuan, atau aktifitas manusia lainnya. Dan sungguh mengejutkan bahwa CI memprakirakan bahwa SATU SPESIES PUNAH DALAM SETIAP 20 MENIT. Luar biasa dan sulit dibayangkan, ribuan kali lebih cepat dari yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia!.

Jika skenario dibalik: Bagaimana jika alam jahat terhadap manusia? Bagaimana jika curah hujan seribu kali lebih dari normal?. Kita kelelep habis!. Bagaimana jika salju turun seribu kali diatas normal?. Kita tidak akan keluar dari gundukan salju!. Bagaimana jika kecepatan transmisi penyakit malaria atau HIV/AIDS seribu kali lebih cepat dari angka sekarang?. Jutaan manusia lenyap dari muka bumi!. Dan inilah yang terjadi dengan dunia biodiversitas flora dan fauna manusia hari ini ,,, punah!!!. (Thomas Brooks, senior director CI).

Isu biodiversitas bukan semata urusan kebun binatang!. Kita tidak pernah tahu spektrum kompleksitas sebuah jaringan kehidupan (web of life). Berapa banyak komponen penyembuhan alamiah tersedia dialam, berapa banyak lagi materi alam bagi kebutuhan industri, berapa banyak lagi temuan biologis yang berguna, berapa banyak keindahan alam, dan berapa banyak rangkaian dan pernik dari sebuah jaringan kehidupan yang belum semuanya mampu kita pahami yang telah punah!. Biodiversitas planet bumi adalah unik dan sebuah perpustakaan berharga dan unik tapi kita bakar – SEBELUM manusia sempat membuat katalog, bahkan membaca nya! (John Holdren, Harvard and Woods Hole – environmental specialist)

“Merusak hutan hujan tropis dan ekosistim yang kaya spesies untuk kepentingan profit sama saja dengan membakar seluruh lukisan di Louvre untuk memasak makan malam”. (Edward O. Wilson – Harvard entomologist). Dan membakar lukisan tak ternilai inilah yang sedang dilakukan manusia.

Jasa Ekologis (3)

Bagi mereka yang seolah buta-tuli terhadap penampilan alam yang indah menawan yang sering diungkapkan dari sisi bahasa estetika, bahasa penyair, bahasa agama atau bahasa spiritual nilai-nilai sebuah biodiversitas ,,, masih ada yang kerap terlupakan; yakni keuntungan praktis ekosistim!. Adalah ekosistim memberikan jasa pelayanan ekologis  berbagai rupa dan bentuk kepada mereka yang tidak mampu ke supermarket atau membayar tukang ledeng (membuat kamar mandi-ben). Dalam istilah yang kering dan tak-deskriptif istilah ini disebut “Ecosystem Services”.

Alam memasok air bersih, menyaring polutan dari sungai, menyediakan lahan berpijah bagi ikan, mengontrol erosi, membentengi manusia dari badai dan bencana alam, menjadi tempat berlabuh serangga yang mempolinasi tanaman budidaya pertanian atau juga membunuh hama tanaman budidaya, dan mengambil CO2 dari atmosfir secara alamiah. Inilah sebagian jasa ekologis yang diberikan alam terhadap manusia, terutama sekali penduduk miskin yang hidup dinegara-negara berkembang yang bergantung sangat tinggi terhadap ekosistim.

Jika manusia mengobok-ngobok alam dengan cara menurunkan kualitas sebuah lingkungan hidup, maka yang paling akan merana terkena dampaknya adalah spesies yang terbesar dan terkompleks, yaitu manusia itu sendiri. Biodiversitas tidak saja menolong kita untuk hidup, tapi jiga membantu kita untuk beradaptasi. Tidak ada peran praktis lain daripada peran sebuah biodiversitas membantu mengadaptasi perubahan seluruh makhluk hidup.

Posted by: ben | August 16, 2010

Bumi Semakin Panas

Dalam pemahaman para ilmuwan hari ini mereka sepakat bahwasanya bumi cenderung semakin panas – panas yang melebihi variasi panas alamiah dan normal – akibat ulah kegiatan manusia yang dikaitkan dengan yang namanya large scale manufacturing atawa produksi barang-barang untuk mencukupi kebutuhan hidup manusia.

Proses pemanasan bumi ini sudah berlangsung sejak lama, yakni sejak masa Revolusi Industri di abad 17, masa dimana tenaga manusia, kuda dan tenaga air diganti atau diperkaya dengan penggunaan mesin-mesin. Perubahan ini terjadi terutama di Inggris dan daratan Eropa berlanjut ke Amerika Utara – kala bangsa ini berpindah dari pertanian dan perdagangan menjadi bangsa-bangsa pemanufaktur yang sangat bergantung kepada mesin-mesin, bukan lagi kepada alat-alat ringan dan hewan.

Revolusi Industri adalah revolusi energy and power, bermula dari pengembangan Mesin Uap yang basisnya adalah konversi energi kimiawi dari dalam kayu atau batubara menjadi energi panas dan akhirnya melahirkan kerja mekanis atau mechanical work!. Batubara pada akhirnya menggantikan kayu karena jika dihitung berat per berat, batubara memiliki energi dua kali lebih banyak dari kayu. Lagipula masa itu sudah ada kesadaran untuk menyelamatkan hutan temperate (pen – bukan hutan tropis).   Batubara digunakan untuk menghasilkan panas yang langsung digunakan dalam proses industrialisasi, termasuk metalurgi, untuk penghangat rumah, juga untuk pembangkit daya mesin uap. Pertengahan abad 18 minyak bumi ditemukan, mengganti sebagian peran batubara dalam bentuk minyak tanah. Sebagian untuk lampu menggantikan minyak ikan paus, juga pemanas rumah, proses manufaktur, dan bahan bakar industri.

Ringkasnya sejak masa Revolusi Industri lah sebagian besar energi bagi kelangsungan hidup manusia di planet bumi ini sebagian besar dipenuhi oleh energi yang berasal dari fossil fuel yang ujung-ujung nya mengeluarkan emisi yang namanya carbon dioxide atau dikenal CO2!!!.

Rochelle Lefkowitz mengatakan segala jenis bahan bakar; batubara, minyak bumi, dan gas yang berasal dari perut bumi adalah “fuel from hell” / bahan bakar dari neraka, karena sifat fuel ini ini tak-terperbaharukan alias habis, dan menghasilkan CO2 dan polutan lain jika dibakar bagi kegunaan transportasi, pemanas dan industri.  Sebaliknya ada jenis fuel yang disebut “fuel from heaven” / bahan bakar dari surga – energi angin, tenaga hidro, energi ombak, dan energi solar / matahari!. Semua energi ini berasal dari atas bumi, terperbaharukan alias tak habis-habis, dan tidak berdampak buruk bagi kesehatan manusia.

Revolusi Transportasi

Awal abad ke 20 terjadi revolusi lain, yaitu Revolusi Transportasi yang bermula dari penemuan internal combustion engine; ya mesin mobil gitu la ,,, yang mampu menggerakkan roda kendaraan sedan atau truk. Kendaraan berbahan bakar minyak ini sebenarnya ditemukan pertama kali di Jerman akhir abad 19, namun pendapat lain mengatakan justru Amerika Serikat lah negeri dimana pertama kali diproduksi otomobil bernama 1901 Curved Dash Oldsmobile oleh Ransom E. Olds. Dilanjuti oleh Henry Ford of Detroit, Michigan yang membuat mobil-mobil modern hingga hari ini, yang berawal dari mobil pertama Ford ditahun 1896. Revolusi Transportasi melahirkan bayi bernama kendaraan yang tidak saja haus bahan bakar minyak, tetapi juga membutuhkan pakaian berupa karet-karet, besi dan baja!!!.

Revolusi Industri menyebabkan terjadinya urbanisasi, dan urbanisasi pula yang melahirkan suburbanisasi. Trend urban dan suburbanisasi yang terjadi diseluruh benua AS selanjutnya melahirkan, pertama; American car culture, kedua; pembangunan sistim jalan raya nasional, dan ketiga; menjamurnya kota-kota suburb disekeliling kota-kota besar di AS. Dan negara-negara lain percis mengikuti jejak model AS baik negara maju maupun negara berkembang dan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Hasilnya adalah hari ini AS mempunyai banyak kota suburb dan jaringan jalan raya yang masuk, keluar dan mengitari kota itu, yang ternyata tidak hanya ada di AS tapi juga di kota-kota di Cina, India dan Amerika Selatan. (Seperti negeri kita yang masih terus berkutat membangun jalan raya trans-trans Jawa, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Papua dll). Hasil akhirnya kita ketahui bahwa kota urban bagaikan magnit menarik manusia berkumpul dan bagi yang tak mendapat tempat terpental tinggal di kawasan sub-urban.

Kenapa hal ini bisa terjadi???. Tidak lain karena BBM dan BBG plus batubara untuk mendukung pola peradaban ini relatif MURAH, relatif ADA, dan relatif TAK BERBAHAYA – atau paling tidak mudah diatasi!. Jadi ,,, kedigjayaan ini tak beralasan untuk dihentikan!. Semakin banyak manusia, semakin banyak pembangunan, semakin banyak beton dan bangunan, semakin banyak mobil, dan semakin banyak batubara, minyak dan gas dibutuhkan untuk membangun dan mendayakannya. Ringkasnya sebagaimana disebut Andy Karsner dari Departemen Energi AS: “Kita membangun lingkungan yang tidak efisien, tetapi hanya efisien bagi kepentingan manusia”.

RUANG TERBUKA HIJAU

Buku terkenal Rachel Carson berjudul Silent Spring yang terbit ditahun 1962 membuat manusia menjadi waspada akan efek toksik pestisida. Kesadaran awal ini selanjutnya berkembang menjadi kesadaran manusia akan racun akibat polusi kota, limbah industri yang dibuang kedanau atau kesungai, dan kesadaran akan hilangnya RUANG TERBUKA HIJAU dikota akibat urbanisasi!!!. Kesadaran bahaya pencemaran ini berlanjut dengan kesadaran politis dengan disahkan nya produk legislastif untuk melindungi dan merestorasi udara dan air bersih, dan menghentikan parahnya polusi air, pembuangan limbah beracun (BBB), kabut asap, deplesi ozone, hujan asam, dan pembuangan sampah dijalan raya. Dan berawal dari konservasi alam yang telah berusia ratusan tahun lampau yang dimulai oleh naturalis terkenal John Muir, gerakan lingkungan modern berhasil pula menelurkan Undang-undang Satwa Langka dan berbagai produk legislastif dalam upaya melindungi lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati.

Namun rupanya tidak ada waktu untuk istirahat!. Pada paruh abad ke 20 kesadaran ilmiah para ilmuwan mulai timbul terhadap bahaya akumulasi dahsyat polutan kasat mata – yang disebut Gas Rumah Kaca (GRK) – yang dapat mempengaruhi iklim. Penumpukan GRK ini telah terjadi sejak lama yakni sejak masa Revolusi Industri, dan repotnya terjadi ditempat-tempat yang tidak tampak mata dan pula tidak dapat diraba ataupun dicium. Gas Rumah Kaca, umumnya CO2 adalah produk dari aktifitas industrialisasi, pemukiman manusia, dan bersumber dari transportasi yang tidak menumpuk terbuang disepanjang jalan raya atau sungai, didalam kaleng atau botol, tapi gas rumah kaca ini berada tepat diatas kepala manusia, di atmosfir planet bumi ini!. Jika atmosfir bumi bagaikan selimut yang membantu mengatur temperatur planet, maka akumulasi CO2 di atmosfir akan ber-efek mempertebal selimut ini dan menjadikan BUMI SEMAKIN PANAS!

SAMPAH

Untuk memvisualisasikan bagaimana manusia membuang CO2 ke atmosfir, bayangkan ilustrasi sebagai berikut:

Jika anda berkendaraan dijalan raya dimana disetiap mil perjalanan, anda membuang satu pon sampah dari jendela mobil. Melempar sampah dari jendela mobil ini dilakukan pula oleh setiap mobil dan truk yang ada dijalan raya tersebut. Mereka yang menyetir mobil Hummers bahkan membuang dua kantong sampah – satu dari jendela supir dan satu lagi dari jendela penumpang!. Bagaimana perasaan anda?. Tentu tidak senang bukan!.  Inilah persisnya yang kita lakukan; hanya kita tidak melihat lagi sampah-sampah yang kita buang sepanjang perjalanan tersebut. Dalam kasus Bumi Semakin Panas sampah yang dibuang adalah satu pon CO2 – yang dibuang ke atmosfir rata setiap mil.

Kantong-kantong CO2 yang kita buang mengambang dan stay di atmosfir, bersama-sama dengan kantong CO2 berasal dari pembangkit listrik yang membakar batubara, minyak, dan gas, dan kantong CO2 yang berasal dari pembakaran hutan dan pembukaan lahan yang membebaskan karbon yang disimpan pepohonan, tumbuh-tumbuhan, dan tanah. Dalam kenyataannya tidak banyak yang menyadari bahwa deforestasi di Indonesia dan Brazil membuang lebih banyak CO2 ke atmosfir dibanding dengan buangan sisa pembakaran mobil, truk, pesawat terbang, kapal laut dan kereta api digabung diseluruh dunia – yakni 20% dari total emisi global!!!.

Dan jangan lupa bahwa kita tidak saja membuang bungkusan CO2 thok, tapi manusia penghuni bumi ini juga membuang Gas Rumah Kaca (GRK) lain seperti methane (CH4) buangan dari sawah, pengeboran minyak, penambangan batubara, kotoran hewan, tempat pembuangan akhir sampah, dan bahkan dari gas sendawa hewan ternak.Ya, dari hewan ternak; gas sendawa dari mulut sapi yang mengandung CH4 – tak berwarna dan tak berbau – sangat tinggi. Sehingga dihitung satu ekor sapi rata-rata melepas 600 liter methane per hari ke atmosfir. Bayangkan betapa banyak methane yang dikeluarkan oleh 1,3 juta ternak sapi yang ada didunia ini?!.

TIDAK ALAMIAH

Apa sih hubungan yang jelas antara bertambahnya emisi gas rumah kaca ini dengan pemanasan global???. Para ahli di Pew Center on Climat Change meyimpulkannya laporan dalam “Climate Change 101” sebagai berikut:

Temperatur global rata-rata / average global temperature mengalami perubahan alamiah sepanjang sejarah peradaban manusia. Sebagai contoh, iklim bumi belahan Utara / Northern Hemisphere bervariasi dari relatif hangat antara abad ke 14 dan 15 menjadi relatif lebih dingin antara abad 17 hingga pertengahan abad 19. Akan tetapi, ilmuwan mempelajari adanya kenaikan temperatur yang sangat cepat terjadi pada akhir abad 20 TIDAK disebabkan oleh variabilitas alamiah!. Faktor penyebab kenaikan temperatur ini adalah faktor manusia – berasal dari emisi CO2 dan gas rumah kaca lain hasil pembakaran  seperti batubara dan minyak, juga deforestasi, peternakan skala besar, pertanian dan industrialisasi. Ini disebut dalam istilah ilmiah sebagai “perkayaan efek rumah kaca”.

Dengan memompa sedemikian besar gas rumah kaca ke atmosfir, maka manusia telah merubah proses yang semula bersifat alamiah. Efek rumah kaca pada awalnya sesungguhnya bermanfaat yaitu membuat bumi hangat dan dapat dihuni karena tanpa efek rumah kaca ini, bumi akan lebih dingin sekitar 60 derajat F. Karena temperatur rata-rata bumi adalah 45 derajat F, yang membuat efek rumah kaca alamiah tentu baik. Namun “perkayaan efek rumah kaca” berarti lebih banyak panas matahari yang terjebak yang mengakibatkan temperatur global meningkat. Dan ini sesuai dengan laporan terbaru 2005 oleh NASA’s Goddard Institute for Space Studies yang menyimpulkan bahwa energi yang diserap dari matahari lebih besar daripada yang dilepas ke angkasa, menyebabkan terjadi ketidakseimbangan energi dan inilah penyebab bumi semakin panas.

DEMAM

Dua puluh juta tahun lamanya komposisi atmosfir bumi tak pernah berubah!. Tetapi hanya beberapa ratus tahun yang lalu inilah kita men-transformasi atmosfir dan merubah keseimbangan panas antara bumi dan matahari yang membuka jalan bagi terpengaruhnya habitat layak fauna, flora dan manusia diatas planet bumi ini.

Pada malam Revolusi Industri – menurut sample bongkahan es yang berisi gelembung udara dari era sebelumnya dan yang dapat memberikan kita gambaran kondisi iklim ribuan tahun lampau – level CO2 diatmosfir berada pada posisi 280 ppm per volume. Level ini telah bertahan sejak sepuluh ribu tahun yang lalu dihitung dari masa Revolusi Industri. Sejak 1950 lah level CO2 di atmosfir bumi mulai merangkak naik, diikuti kenaikan pada masa industrialisasi dibelahan Barat setelah Perang Dunia 2. Ditengah berbagai maraknya upaya pencegahan perubahan iklim, tingkat kecepatan manusia membuang CO2 ke atmosfir terus meningkat. Pada tahun 2007, level CO2 berada pada posisi 384 ppm per volume, dan terlihat akan terus naik 2 ppm per volume setiap tahun!

Kesepakatan diantara para ilmuwan iklim dunia bahwasanya temperatur bumi sudah semakin panas rata-rata 0,8 derajat C (1,44 F) diatas level nya ditahun 1750. Kenaikan temperatur yang tercepat terjadi sejak tahun 1970!. Perubahan iklim diberbagai belahan benua dan diberbagai altitude dapat lebih besar dari 0,8 derajat C. Walaupun kenaikan satu derajat tidak terdengar besar, tetapi perubahan ini menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan kondisi iklim. Sama halnya jika temperatur tubuh manusia mengalami kenaikan, sekalipun hanya satu derajat, tetapi pasti ada masalah dengan kesehatan. Temperatur normal tubuh manusia 98,6 derajat F dan ketika naik menjadi 102 derajat F, ini menjadi serius – karena mesti ada yang tidak beres. Inilah yang terjadi dengan bumi yang kita huni bersama – DEMAM!!!

Lain study mengatakan bahwa sejak ditemukan thermometer tahun 1860, maka bumi semakin panas tercatat paling parah antara tahun 1995 – 2005!. Pendiri CNN Ted Turner mengatakan bahwa ‘pemanasan global’ disebabkan oleh manusia yang semakin bertambah banyak!. Kepada Charlie Rose penginterview; Ted menambahkan bahwa penyebabnya adalah karena: Terlalu banyak manusia menggunakan terlalu banyak barang too many people are using too much stuff!!!.

Kesimpulan sederhana dan benar juga ……………………..

Ben

(Lebih lanjut sila baca kitab favorit:

Hot, Flat and Crowded – Thommas Friedman)



Posted by: ben | February 17, 2010

BEYOND MENUMBING: Tiga Tonggak Besar Sejarah Bangka.

Posted by: ben | December 22, 2008

TOURISM OUTLOOK

Posted by: ben | May 26, 2008

Mampukah Belajar Seperti Jepang

Posted by: ben | May 26, 2008

Secercah Sinar Diujung Lorong Gelap

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.